RSS
Container Icon

TAsk..

Mata Kuliah                : Biokimia
Dosen Pengampuh      : Hj. Nurdiana., M. Pd.
Tugas Individu
VITAMIN

Logo-UIN.gif




Kelas Biologi 2
Charisma Rahayu
20500111021





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
SAMATA-GOWA
2012
KATA PENGANTAR


Segala puji hanya milik Allah swt. atas segala limpahan rahmat, karunia dan kekuatan dari-Nya sehingga makalah dengan judul “vitamin” dapat diwujudkan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan pujian dan rasa syukur kepada-Nya sebanyak tinta yang dipergunakan untuk menulis kalimatnya. Selawat dan salam kepada Rasulullah saw. sebagai satu-satunya uswah dan qudwah dalam menjalankan aktivitas keseharian d iatas permukaan bumi ini, juga kepada keluarga beliau, para sahabatnya dan orang-orang mukmin yang senantiasa istiqamah meniti jalan hidup ini hingga akhir zaman dengan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah swt.
Terlalu banyak orang yang berjasa dan terlalu banyak orang yang mempunyai andil kepada penulis selama menyelesaikan makalah ini  Kepada mereka tanpa terkecuali, penulis menghaturkan terima kasih semoga menjadi ibadah dan amal jariyah. Amin.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi bahasa, sistematika penulisan yang termuat di dalamnya. Oleh karena itu, kritikan dan saran yang bersifat membangun senantiasa penulis harapkan guna penyempurnaan kelak.
Gowa,  Dzulhijjah 1433 H
Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... 2
DAFTAR ISI.......................................................................................................... 3
BAB  I     PENDAHUlLUAN
A. Latar Belakang………………………………………………………4
B. Rumusan Masalah............................................................................... 5
BAB II    PEMBAHASAN
A.       Pengertian Vitamin………………………………………………..6
B.        Fungsi Vitamin……………………………………………………7
C.        Klasifikasi Vitamin………………………………………………..7
1.      Vitamin yang Larut Air……………………………………….8
2.      Vitamin yang Larut Lemak…………………………………..11
3.      Vitamin-Vitamin B-Kompleks Lain…………………………22
4.      Vitamin-Vitamin yang Masih Kontroversial………………...23
BAB III  PENUTUP
A.    Kesimpulan……………………………………………………………25
B.     Implikasi………………………………………………………………25
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................26



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Vitamin adalah golongan senyawa organic sebagai pelengkap makanan yang sangat diperlukan oleh tubuh. Vitamin memiliki peran sangat penting untuk pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan, dan fungsi-fungsi tubuh lainnya agar metabolisme berjalan normal.
Karbohidrat, protein, dan lemak dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah besar untuk menyediakan energi dan menghasilkan prekursor organik berbagai komponen tubuh. Namun demikian, vitamin memiliki fungsi khusus yang tidak dapat digantikn oleh zat lain. Kekurangan vitamin berarti kekurangan zat essensial dalam tubuh, sehingga dapat menimbulkan penyakit tertentu. Kondisi kekurangan vitamin disebut avitaminosis dan dapat disembuhkan dengan memberikan vitamin yang kurang.
Pada umumnya, vitamin tidak dapat disintesis dalam tubuh dalam jumlah yang mencukupi, sehingga harus diperoleh dari bahan pangan yang dikonsumsi.sebagai perkecualian adalah vitamin D yang dapat dibuat di dalam kulit, asalkan kulit cukup mendapatkan sinar matahari. Vitamin lain yang disintesis di dalam tubuh adalah vitamin K dan vitamin B12. Kedua jenis vitamin disitesis di dalam usus oleh bakteri.
Vitamin terdapat dalam bahan makanan hanya dalam jumlah relative kecil. Bentuk vitamin berbeda-beda, di antaranya ada yang berbentuk provitamin atau calon vitamin (precursor). Setelah diserap oleh tubuh, provitamin dapat diubah menjadi vitamin yang aktif. Oleh karena itu, penulis akan mengkaji lebih jauh mengenai vitamin.




B.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Apakah yang dimaksud dengan vitamin?
2.    Apakah fungsi vitamin?
3.    Bagaimanakah klasifikasi vitamin?
















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Vitamin
Sekitar akhir abad XIX, ketika mulai dipergunakan bahan pakan murni dalam percobaan-percobaan binatang, disangka bahwa susunan makanan sudah cukup kalu terdiri atas karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Ternyata bahwa dengan susunan makanan demikian, binatang percobaan tidak menunjukkan kesehatan dan pertumbuhan badan yang memuaskan.
Di dalam susunan makanan di atas, masih diperlukan zat gizi lain yang pada saat ini masih belum diketahui ujudnya. Dalam penelitian penyakit beri-beri di antara para tahanan dan hukuman di Indonesia pada permulaan abad XX, EIJKMAN dan rekan-rekannya menemukan adanya zat yang diperlukan ini, yang kemudian diberi nama vitamine oleh Vladimir Funk, karena disangka suatu ikatan organik amine, oleh adanya unsur N dan telah dikenalnya asam amino pada saat itu. Zat vitamin ini diperlukan untuk kehidupan (vita), sehingga diberi nama vitamine.
Kemudian ernyata bahwa zat essensial ini bukan suatu amine dan tidak selamanya menagndung unsur nitrogen (N). karena itu nama vitamine banyak yang menentangnya, sehingga diubah menjadi vitamin, sengan dibuang huruf e-nya. Mengganti sama sekali dengan nama lain agak sulit, karena nama itu telah memasyarakat di kalangan para ilmuwan.
Definisi ini mula-mula dianggap mudah, dan diformulasikan sebagai “suatu zat gizi yang diperlukan tubuh dalam jumlah-jumlah kecil dan harus didatangkan dari luar, karena tidak dapat disintesa di dalam tubuh”.
Di dalam definisi ini tersirat:
a.    Diperlukan tubuh dalam jumlah-jumlah kecil, dan
b.    Harus datang dari luar tubuh, karena tidak dapat disintesa di dalam tubuh sendiri.


B.  Fungsi Vitamin
Fungsi vitamin secara umum berhubungan erat dengan fungsi enzim, terutama vitamin-vitamin kelompok B. enzim merupakan katalisator organik yang menjalankan dan mengatur reaksi-reaksi biokimiawi di dalam tubuh. Suatu enzim terdiri atas komponen protein yang dihasilkan oleh sel dan diseut apoenzim. Apoenzim ketika disintesa tidak mempunyai aktivitas; baru menjadi aktif bila berkonjugasi dengan komponen non-protein yang disebut ko-enzim. Ko-enzim ini pun dibuat di dalam tubuh dan mengandung komponen yang disebut vitamin itu. Susunan lengkap apoenzim dan ko-enzim disebut holoenzim dan holoenzim yang mempunyai aktivitas sebagai biokatalisator. Di dalam sel apoenzim terdapat sebagai butir yang mengisi suatu vakuole, dan disebut proenzim atau zymogen, yang belum mempunyai aktivitas.
Peranan hampir seluruh vitamin dari kelompok B telah diketahui fungsinya di dalam ko-enzim. Tidak demikian halnya dengan vitamin-vitamin yang larut lemak. Meskipun gejala-gejala sebagai akibat difisiensi vitamin ini telah diketahui, tetapi peranannya yang jelas di dalam rantai reaksi biokimiawi di dalam proses metabolisme, belum diketahui. Kekecualian adalah untuk vitamin D. untuk vitamin ini telah jelas diketahui bahwa vitamin D ini di dalam tubuh diubah menjadi hormon yang berpengaruh atas transpor zat kapur (Ca).

C.  Klasifikasi Vitamin
Berdasarkan kelarutannya, vitamin dibagi menjadi dua golongan utama, yaitu:
1.    Vitamin yang larut dalam air, meliputi vitamin B dan C
2.    Vitamin yang larut dalam lemak, meliputi vitamin A, D, E, dan K.
Menurut Kodicek (1971), vitamin yang larut dalam air disebut prakoenzim (procoenzyme). Vitamin-vitamin ini dapat bergerak bebas dalam bada, darah, dan limfa. Karena sifat kelarutannya, vitamin yang larut dalam air mudah rusak dalam pengolahan dan mudah hilang atau terlarut bersama air selama pencucian bahan. Di dalam tubuh, vitamin ini disimpan dalam jumlah terbatas dan kelebihan vitamin akan dikeluarkan atau diekskresikan melalui urin. Oleh karena itu, untuk mempertahankan saturasi jaringan vitamin ini harus sering dikonsumsi.
Golongan vitamin yang larut dalam lemak disebut alosterin. Setelah diserap dalam tubuh, vitamin akan disimpan dalam jaringan-jaringan lemak, terutama hati. Karena sifatnya yang tidak larut dalam air, vitamin-vitamin demikian tidak disekresikan. Akibatnya, di dalam tubuh dapat disimpan dalam jumlah banyak, sehingga kemungkinan terjadinya toksisitas jauh lebih besar daripada vitamin yang larut dalam air.
Kebanyakan vitamin yang larut dalam air berperan sebagai kofaktor enzim tertentu dalam menatalisis berbagai reaksi biokimia. Sebaliknya, vitamin A dan D mempunyai sifat menyerupai hormon, vitamin E memiliki sifat antioksidan, dan vitamin K diperlukan bagi biosintesis faktor pembekuan darah.
1.    Vitamin yang Larut Lemak
Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak dimasukkan / digolongkan kedalam lipida. Keempat  vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A,D,E, dan K) dibentuk secara biologik dari unit-unit hidrokarbon S-karbon, yang disebut ispren atau 2-metilbitadiena, yang merupakan unit pembangunan sejumlah sneyawa alamial minyak / lemak.
            Fungsi biokimiawi yang khusus atau koenzim vitamin  yang larut dalam  lemak masih belum diketahui secara jelas. Satu sifat yang penting dari vitamin ini adalah, bahwa golongan ini dapat disimpan dalam jumlah besar di dalam tubuh.
a.             Vitamin A
Vitamin A untuk pertama kalinya dikenal sebagai faktor   nutrisi esensial oleh Elmer MeCollum pada tahun 1915 dan  kemudian dapat diisolasi dari minyak hati ikan. Vitamin A diperlukan oleh semua hewan bertingkat tinggi vitamin A hanya terdapat dalam  jaringan hewan, sedangkan pada tumbuhan terdapat sebagai korotensid yang dapat diambil menjadi vitamin A dalam jaringan kebanyakan hewan.
Ada dua macam bentuk kimia vitamin A yaitu vitamin A1 (retinol), diperloleh dari hati ikan laut. Bila gugus primer alkohol dari retinol dioksidasi, dihasilkan aldehidretenal. Bentuk yang lainnya adalah vitamin A2-yang diperoleh dari hati ikan air tawar. Vitamin A2 mempunyai ikatan rangkap yang jumlahnya satu lebih banyak daripada vitamin A1 vitamin –vitamin ini adalah alkohol  yang mengandung cincin 6 oksiklik, yang mengandung 20 atom karbon, dengan rantai samping yang terdiri dari dua arut isoprem.
Walaupun  vitamin A diketahui berfungsi  dalam proses penglihatan, tetapi  kemungkinan mempunyai, peranan metabolik lain, karena semua jaringan dipengaruhi oleh suatu difisiensi  : satu peranan umum diduga dalam transpor itu kalsium melintasi membran tertentu.

b.            Vitamin D
Vitamin D atau kalsiteral merupakan turunan steroid. Vitamin D terdapat dalam dua bentuk, yaitu dalam jaringan hewan terdapat sebagai vitamin D3 atau kalekalsiferal yang selalu dijumpai dalam minyak hati ikan. Vitamin D3 pada manusia dan hewan dibuat dibawah kulit dari prekuensor 7-dehidrokolesteral, melalui penyinaran sinar  ultraviolet. Bentuk lainnya adalah vitamin D2 atau ergokalsiferol, produk  komersial yang dihasilkan dari radiasi sinar ultra violet terhadap ergasterol khamir.
Kekurangan vitamin D menyebabkan metabolisme kalsium dan fosfat tidak normal, menyebabkan tumbuhnya penyakit Tulang (ricket), kaki bengkak karena terhambatnya pertumbuhan tulang. Pada kondisi normal, manusia mampu untuk menghasilkan cukup vitamin D.
Fungsi biokimia vitamin D telah dipelajari secara intensif pada tahun-tahun terakhir ini. Vitamin D3 merupakan prekursor dari 1,25-dihiroksikolekalsoferol, yang dibuat dalam ginjal. Senyawa ini dianggap sebagai hormon dan didefinisikan sebagai pembawa pesan kimia yang disintesis oleh satu  organ untuk mengatur aktivitas biologi pada jaringan lain. pelacakan dengan isotop membuktikan bahwa vitamin D menaikkan kecepatan pertumbuhan  dan sesopsi  mineral (Ca) dalam tulang, dan juga mempengaruhi pembuangan fosfat dari ginjal.
c.       Vitamin E
Vitamin E atau a-tokoferol pertama kali diisolasi tahun 1922, sebagai suatu faktor dari suatu minyak sayuran  yang menyebabkan infetilitas pada tikus. Karena keterkaitannya dengan reproduksi, maka vitamin ini diberi nama tokoferol, dari bahasa yunani,  tokos. Yang berarti hamil muda. Vitamin E mengandung cincin  aromatik bergugus hidroksil, dengan rantai samping isoprenoid.
Kekurangan vitamin E pada tikus dan hewan lainnya menyebabkan sterilitas (hemandulan), kelemahan otot dan kulit bersisik. Pada anak sapi terjadi kerusakan jantung, dan retardasi pertumbuhan pada kelinci.
Aktivitas biokimia yang lekas dari vitamin E belum diketahui, tetapi vitami ini menghalangi oksidasi non enzimatik pada ikatan rangkap asam lemak tak jenuh. Karena itu vitamin E dikenal sebagia zat antioksidan. Karena sifat  protektif ini, maka vitamin  E sering ditambahkan pada makanan berminyak komersial untuk mencegah terjadinya oksidasi, sehingga makanan tidak menjadi tenyik.

d.      Vitamin K
Vitamin K diberi nama dari bahasa Denmarik, koagulasi  oleh penemuannya, Henrik Dam (Hadial Nobel, 1943) dan sesuai dengan makna kata tersebut, vitamin K diperlukan untuk pembekuan darah. Vitamin K ditemukan dalam dua bentuk, yaitu vitamin K1 (filokurnon) yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan temtamo yang berwarna hijau tua yang lainnya adalah vitamin K2 (manakwiron) yang dihasilkan oleh bakteri dalam usus.
Pada individu yang normal, kekurangan vitamin K adalah sangat jarang akan tetapi pemakaian antibiotika yang berkepanjangan dapat menyebabkan kekurangan vitamin K, karena terbunuhnya flora usus.
Fungsi biokimia vitamin K adalah diperlukan dalam pembentukan yang baik protein plasma, protrombin yang diperlukan dalam pembekuan darah. Karena itu kekurangan vitamin K, menyebabkan terhentinya  pembekuan darah.
Dan antagonis vitamin K adalah dikumarol, pertama kali diisolasi dari jerami clover berjamur dan warfarin, analog sintetik dari vitamin K. Kedua zat antagonis ini mencegah terjadinya pembekuan darah. Warfarin adalah suatu racun tikus, yang apabila dimakan oleh tikus, dalam suatu periode waktu, menyebabkan kematian dengan menimbulkan pendarahan dalam.

2.    Vitamin- Vitamin yang Larut Air
            Struktur kimia dari  vitamin yang larut dalam air sangat beraneka ragam, tetapi mereka mempunyai sifat molekul polar, sehingga larut dalam air. Semua vitamin yang larut dalam air, dapat disintesis oleh tumbuh-tumbuhan (kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran berdaun hijau dan ragi) kecuali vitamin B12. vitamin B komplek dan vitamin C karena kelarutannya dalam air, tidak dapat disimpan lama dalam bentuk stabil, harus disediakan terus menerus dalam makanan, kecuali vitamin B12, pada hati manusia dapat disimpan untuk persediaan beberapa tahun. Semua vitamin yang larut dalam air, kecuali vitamin C, berfungsi sebagai koenzim atau kofaktor dalam reaksi enzimatik.









Vitamin B, Koenzim, dan fungsi Enzimatiknya
Vitamin
Bentuk koenzim
Fungsi enzimatik
Tiaminin (B1)
Tiaminin pirofosfat (TPP)
Transfer atau pengangkatan gugus  aldehida
Reboflovin (B2)
Flavin adenin dipuklotida (FAD)
Flovida mononukleotida (FMN)
Transfer hidrogen 
Transfer hidrogen
Nikotinamida
Nikotinamida adenin dinukletida (NAD+)
Nikotinamida adenin demikleotida fosfat (NADP+)
Transfer  hidrogen
Asam fantolenat
Koenzim A (KoA)
Transfer atau karier gugus asil
Peridoksen (B6)
Peridoksalfosfat
Transfer gugus amino, gugus karboksil dari rasenisasi.
Biotin
Biotin
Transfer atau pengangkatan gugus karboksial
Asam falat
Asam titrahidroksi falat
Transfer satu –C
Vitamin B12
Koenzim B12
Pergeseran 1,2 dari atom hidrogen, karier gugusan metil
Asam lipoat
Lipoatmid
Transfer gugus asil
 Sumber : Frank B. Amstrong 1989
a.       Tiamin (Vitamin B1)
                Tiamin (vitamin B1) diperlukan dalam makanan semua  hewan, kecuali hewan memamah biak. Tiamin dijumpai pada semua tumbuhan, tetapi dalam konsentrasi tinggi terdapat dalam padi-padian sebagai molekul bebas, lapisan luar dari biji padi-padian kaya akan tiamin. Kekurangan  tiamin pada diet manusia menyebabkan penyakit beri-beri, suatu penyakit yang ditandai tidak terkendalinya syarat, paralisis dan kehilangan berat badan. Tiamin pertama kali diisolasi dan dimurnikan tahun 1926, dan struktur kimianya ditentukan pada awal tahun 1930-an oleh Robert R. Williams di Amerika Serikat.
                Struktur  kimia teamin, mengandung, sistem dua cincin yaitu perimidin dan tiazol. Pada jaringan hewan tiamin terutama  terdapat  sebagai tiamin pirofosfat atau kimia difosfat (TPP), yang merupakan bentuk koenzimnya.

CH3
 
 






Tiamin (vitamin B1)



 





Tiami pirofosfat (TPP)
        Tiamin penafosfat berfungsi sebagai koenzim pada beberapa reaksi penting dalam metabolis karbohidrat, yang melibatkan pengangkatan atau transfer, gugus aldehida dari molekul donor  menjadi molekul penerima. Pada reaksi tersebut TPP berfungsi sebagai senyawa perantara yang membawa gugus aldehida yang terikat secara kovalen pada cincin tiazol. Contohnya adalah reaksi yang dekatalisis oleh enzim perivat dekarboksilase  yang merupakan langkah penting dalam permentasi glukosa oleh klamer  untuk menghasilkan alkohol pada reaksi dekarboksilasi piruvat, gugus korboksil dari piruvat dikeluarkan sebagai CO2 dan sisa  molekul piruvat yang kadang-kadang disebut sebagai asetaldehida aktif, secara bersamaan dipindahkan ke posisi C-2 dari cincin taizol (tempat reaktif TPP) yang terikat kuat dengan TPP untuk menghasilkan turunan hidroksietil. Senyawa antara ini hanya sementara terdapat, karena gugus hidroksielil dilepaskan dengan cepat dari koenzim untuk menghasilkan asetaldehida bebas.
                TPP juga mempunyai peran sebagai koenzim dari enzim dehidrogenase piruvat dan dehidrogenase a-ketoglutarat yang lebih kompleks. Reaksi ini terjadi pada lintas utama oksidasi karbohidrat di  dalam sel.
b.      Riboflavin (Vitamin B2)
            Riboflavin pertama  kali diisolasi dari susu, disintesis oleh semua tumbuhan dan banyak mikroorganisme, jadi ditemukan dalam semua bahan biologik. Hewan tingkat tinggi harus memperoleh vitamin dari makanan.
            Riboflavin atau vitamin B2 terdiri dari D-ributol yang terikat pada cincin isoaloksazin vitamin ini telah terbukti berperan sebagai faktor pertumbuhan pada tikus. Kini dapat diperoleh secara komersial dari mikroba tertentu.





H
 
 












Riboflavin (Vitamin B2)

Riboflavin adalah komponen dari dua koenzim  yang berhubungan erat yaitu blavin monomukleotida (FMN) dan flavin adenin dinukleotida (FAD).

            FMN  dan FAD adalah koenzim dari kelas enzim dehedrogenase yang dikenal sebagai plano protein atau dehidrogenase plavin yang mengkatalisis reaksi oksidasi reduksi. Pada  reaksi-reaksi yang dikatalisis oleh enzim.enzim ini, cincin iso aloksazin plavin mulektida berfungsi sebagai pembawa sementara sepasang  atom hedrogen yang dipindahkan dari molekul substrat.

c.       Asam Nikotinat dan Nikotinamida
            Nikotinamida adalah merupakan bentuk amida dari asam nikotinat. Untuk menghindarkan salah pengertian dengan alkaloid  mikotin dari tembakau maka diberikan mama alternatif bagi asam nikotinat  yaitu  niasin untuk  penggunaannya  secara  umum. Kekurangan niasin menyebabkan penyakit lidah hitam (black tangue) pada ujung dan pellogra (bahasa Itali, yang berarti kulit kasar) pada manusia, asam  nikotinal banyak terdapat pada tumbuhan dan jaringan hewan, terutama daging. Nikotinamida dapaty disintesis dari triptofan.
            Nikotinamida  adalah komponen yang merupakan bagian aktif dari dua koenzim, yaitu nikotinamida adenin dinakleotida (NAD+) dan nikotinamida adenin dinukleotida fosfat (NADP+) yang dulunya dikenal masing-masing sebagai koenzim I dan koenzim II.
Asam nikotinat (Niacin)
 
Nikotinamid (Niasinamid)
 
 








d.     Asam Pantotenat
               Kata pan pada asam pantotenat berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti dimana saja  vitamin ini ditemukan pada semua jaringan, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan, dan juga pada mikrooganisme asam pantotenat tersebar demikian luasnya dalam berbagai  bahan makanan sehingga tidak ada penyakit yang diketahui disebabkan oleh kekurangan vitamin ini. Asam pantotenaf yang juga dikenal sebagai vitamin B5, untuk pertama kalinya  diisolasi  tahun 1938 dari Khamir  dan ekstrak hati oleh Roger J. Williams/ bentuk koenzim dari asam pemtotenat adalah Koenzim A (disingkat KOA atau KOA-SH). Disebut  demikian karena pertama kali dijelaskan sebagai  suatu kofaktor untuk reaksi asetilasi enzimatik tertentu. Koenzim A mengandung gugus toil atau silf hidril (-SH) yang reaktif yang terletak pada bagian merkaptoetilamin-b dari koenzim, tempat gugus asil berikatan secara koralen membentuk tisester selama pemindahan gugus asil.
               Secara  biologi KoA  penting sebagai pembawa atau donor  dari gugus asil seperti pada reaksi asam piruvat menjadi asam sitrat yang merupakan reaksi awal pada siklus  asam sitrt, yaitu  lintas utama bagi degradasi oksida tub karbohidrat dan pada reaksi  oksidasi b asam lemak di dalam sel aerobik.

e.       Piridoksin (Vitamin B6)
               Pendokpin atau  vitamin B6 terdiri dari tiga senyawa yang berhubungan erat, yaitu peridoksin, piridoksal dan  piridoksamin. Ketiganya tersebar  luas di alam baik  pada hewan maupun tumbuhan. Padi-padian termasuk sumber yang sangat kaya vitamin B6.
Bentuk aktif vitamin B6 :
CH2OH
 
Piridoksin
 
Piridoksal
 
Pitidoksamin
 
 









               Bentuk aktif dari vitamin B6 adalah peridoksal fosfat, yang selalu terdapat dalam bentuk aminopiridoksumin fosfat, yang berfungsi sebagai gugus prostetik sejumlah enzim yang mengkatalisis reaksi mentabalisme asam amino, transaminasi, dekarboksilasi dan rasemisasi. Walaupun reaksi-reaksi ini dikatalisis oleh  enzim yang berlainan, tetapi koenzimnya sama  yaitu piridoksal fosfat.

               Telah diketahui ada kira-kira 20 macam reaksi asam amino, dimana periodoksal fosfat terlibat, salah satu diantaranya adalah interkonversi serin dan lesin. Koefnzim  piridoksal ini menarik perhatian sebab berikatan dengan lisin pada enzim fosfarilase dalam hewan dan tumbuhan.

f.       Biotin 
               Biotin untuk pertama kalinya diisolasi pada tahun 1935  oleh Dritz Kogl dan Benno Jonnis, dari konsentrat  hepar  sebagai faktor pertumbuhan dari ragi. Pada hewan kebutuhan biotin di cukupi  oleh bakteri usus yang mensintesis vitamin ini kebanyakan usus hewan membuat cukup biotin untuk memenuhi kebutuhannya.
Biotin
 
 









               Biotin dapat ditemukan dalam padi-padian ragi, telur dan limpa. Biotin disebut juga sebagai anti egg white injury  faktor, yaitu faktor yang dapat memperbaiki keadaan definisi yang dibuat pada hewan percobaan dengan memberikan putih telur yang banyak. Misalnya, tikus diberi makanan yang mengandung putih telur mentah yang banyak, menyebabkan kerontokan rambut, radang kulit, dan hilangnya koordinasi otot  ini diakibatkan oleh adanya glikoprotein dalam putih telur yang disebut avidin, yang mengikat biotin dengan sangat kuat sehingga tidak dapat diserap oleh dinding tesus,  sehingga vitamin ini tidak berperan sebagai koenzim.


      Avidin + Biotin                                   Avidin biotin
Dengan memasak putih telur, avidin akan  menjalani denatrasi sehingga tidak mampu lagi menyikat biotik. Dengan demikian telur masak tidak pengganggu penyerapan biotin.

g.      Asam Folat
            Asam folat  pertama kali diisolasi dari daun bayam dan namanya berasal dari bahasa latin, Bolium = daun, struktur   kimia dari asam folat mengandung suatu derivat pteridin, asam p-amino benzoat dan asam glutamat

            Vitamin ini dapat menolong keadaan anemia pada unggas dan berperan sebagai faktor pertumbuhan untuk berbagai mikroba. Nama lain dari asam folat adalah asam pteroilglutamat, asam folat sendiri tidak mempunyai aktivitas koenzim, tetapi molekul ini tereduksi secara enzimatik di dalam jaringan menjadi asam tetrahidropolat (FH4), merupakan bentuk koenzim aktifnya
Folat reduk
 
 

tase
 
Asam folat + HADPH + H+                            FH2  + NADP+
             
dihirofolat
 
 

reduktase
 
FH2 + HADPH + H+                                  FH2  + NADP+


Asam tetrahidrofolat (FH4) atau TGF berfungsi sebagai pembawa sementara gugus 1-karbon di dalam sejumlah reaksi enzimatik yang kompleks. Di sini, gusgus metil      (-CH3), metelen (-CH­2), metinil (-CH = ), formil (-CHO), atau  formino (-CH = NH) dipindahkan dari satu molekul ke molekul lainnya.


h.      Vitamin B12 (Sianokobalamin)
            Vitamin B12 merupakan vitamin yang memiliki struktur kimia  paling komplek dibandingkan dengan vitamin lainnya. Vitamin B12 tidak dibuat  oleh tumbuhan atau hewan, tetapi dapat dijumpai pada hewan dan mikroorganisme. Vitamin  B12 ini hanya dapat disintesis oleh mikroorganisme 50% vitamin B12 pada orang dewasa dihasilkan  oleh bakteri usus. Menurut  H.A Baker, vitamin B12 merupakan bagian dari koenzim B12, dengan struktur sebagai berikut :

            Vitamin B12 bersifat  unik diantara semua vitamin lainnya, yaitu molekulnya tidak hanya mengandung  suatu molekul  organik yang kompleks, tetapi juga mengandung unsur mikro yang esensial yaitu kobalt (Co). Vitamin B12 disebut juga sianokobalamin sebab molekulnya mengandung gugus amino yang berikatan dengan kobalt, kompleks terkoordinasi serupa dengan sistem cincin porfinin pada heme  dan protein  heme pada bentuk koenzim  vitamin B12 yang disebut 5 desksiadenosilkobalamin, gugus siono digantikan oleh gugus S;deoksiadenosil. Bentuk lain dari koenzim B12 adalah metilkobalamin.
            Vitamin B12 disebut juga antipernisim anemia, karena pertama kali diketemukan sebagai senyawa yang dapat mengobati penyakit anemia permisiosa, yaitu pembentukan sel-sel darah merah tidak dewasa dan rapuh, vitamin B12 dikenal sebagai faktor pertumbuhan beberapa bakteri dan protozora.
            Koenzim vitamin B12 desintesis dari vitamin B12 dengan enzim khusus, sintetase B12. koenxim ini tidak stabil, jika kena cahaya matahari akan berubah menjadi  hanokobalamin atau hidroksi kobalamin,  terdapat dua jenis reaksi enzimatik yang memerlukan koenzim vitamin B12 jenis pertama mengakatalisis penggeseran 1,2 suatu atom hidrogen dari satu atom karbon substrat ke atom berikutnya dengan pengeseran 2,1 (terbalik) yang serentak dari beberapa gugus lainnya, alkil, karboksil,  hidroksil atau gugus amino.

 

i.        Asam Lipoat
      Asam lipoat yang juga disebut asam tioktat dekristalisasi tahun 1951 oleh Lester J. Reed dan Irurin C. Gunsalus dan hewan-hewan. Ketika pertama kali diisolasi  asam lipoat diduga  merupakan vitamin B, namun bukti mutakhir menunjukkan bahwa hewan mensintesis sejumlah kecil asam lipoat yang diperlukan, dan dengan demikian tidak mempunyai kebutuhan diet terhadap  homolekul ini. Sering diklasifikasi. Sebagai vitamin B karena fungsi koenzimatiknya, dan asam lipoat disebut sebagai suatu vitamin, psenzo.
            Ada dua bentuk asam lipoat, yang pertama adalah asam  lipoat dalam bentuk teroksidasi, yang merupakan suatu disulfida siklik dan yang kedua adalah asam  dihirdokpoat, bentuk tereduksi dengan dua gugusan sulfhidril pada C-6 dan – 8.
     
j.      Vitamin C (Asam Askorbat)
         Vitamin C atau asam akorbat disintesis dari glukosa pada semua tumbuhan tingkat tinggi dan kebanyakan hewa, tetapi tidak pada manusia, kera, manurut, burung bulbul, kelelawar buah India dan ikan tertentu. Vitamin C adalah asam L-askorbat, suatu lakton derivat gula dari glukosa. Vitamin C sebagai pereduksi yang kuat mudah kehilangan dua atom  hidrogen, menjadi asam L-dehidroaskorbat, yang masig memiliki aktivitas vitamin C. tetapi bila cincin lakton dihidrolisis untuk menghasulkan asam L-diketogulonat, maka aktivitas vitamin C  hilang.
            Fungsi  biokimiawi yang spesifik dari vitamin C belum diketahui, vitamin C berfungsi sebagai kofaktor dalam reaksi hidroksilasi enzimatik residu prolin pada kolagen jaringan pengikat vertebrata untuk membentuk resedu – 4- hidroksi prolin, yang hanya ditemukan pada  kilagen, dan tidak pada protein hewan lainnya.

3.      Vitamin-Vitamin B kompleks Lain
Vitamin-vitamin anggota B-kompleks yang telah dibicarakan jelas diperlukan oleh manusia, berbagai jeis binatang dan mikroba. Beberapa dapat diketahui kwantum kebutuhan manusia dengan tegas, sedang beberapa lagi hanya dapat diperkirakan dari percobaan mempergunkan binatang.
Ada tiga anggota vitamin B-kompleks yang tidak diketahui sama sekali kebutuhannya bagi tubuh manusia; mungkin karena selalu dapat dipenuhi kebutuhannya oleh rata-rata hidangan masyarakat.
Ketiga jenis vitamin anggota B-kompleks ini ialah; choline, inositol, dan para amino benzoic acid (PABA).
a.             Choline
Choline merupakan komponen dari beberapa ikatan penting di dalam tubuh kita, di antaranya lechitine, sphyngomyeline dan acetyl choline. Yang tersebut terakhir ini suatu ikatan neurotransmitter, yaitu yang meneruskan rangsang saraf, sejenis hormon jaringan.
b.            Inositol
Melihat struktur molekul inositol, secara teoritis terdapat 9 kemungkinan isomeri. Tetapi hanya satu bentuk isomer yang mempunyai bioaktivitas vitamin, ialah meso-inositol. Inositol mempunyai enam gugusan hydlioxyl dalam struktur molekulnya; kalau semua gugusan hydroksi bereaksi dengan gugusan phosphat melalui ikatan ester, akan terjadi ikatan organik yang disebut asam phytat.
Meso inositol tersebar luas di dalam berbagai bahan makanan dan khususdi dalam serealia terdapat asam phytat. Di dalam tubuh manusia meso inositol terdapat dalam kadar tinggi di dalam jaringan jantung, otak, dan otak skelet.
c.             Para Amino Benzoic Acid (PABA)
PABA masih memenuhi definisi vitamin bagi mikroorganisme dan beberapa jenis binatang, tetapi tidak demikian bagi manusia. Pada manusia dan binatang, tetapi tidak demikian bagi manusia. Pada manusia dan binatang tingkat tinggi, PABA merupakan komponen dari struktur asam folat dan vitamin yang masih kontroversial, ialah amygdaline (vitamin B17)
Belum pernah dilaporkan adanya gejala-gejala dan kasus defisiensi PABA pada manusia. Obat-obat sulfon (sulfa) merupakan antagonis dari PABA dan menghambat pertumbuhan mikroflora usus.

4.      Vitamin-Vitamin yang Masih Kontroversial
Dua jenis vitamin yang ditemukan paling akhir masih merupakan vitamin yang kontroversial; belum semua ahli menerima kedua zat organik itu sebagai anggota penuh dari kelompok vitamin. Kedua vitamin yang masih dipersoalkan ini adalah vitamin B15 atau asam pangamat (pangamic acid) dan vitamin B17 atau amygdaline.
a.             Asam Pangamat
Asam pangamat atau vitamin B15 masih sangat kontroversial, karena molekulnya mudah sekali terurai menjadi komponen-komponen yang menyusunnya. Asam pangamtan mengandung gugusan methyl yang sangat reaktip; sehingga mempunyai fungsi yang serupa dengan choline dan methionin. Fungsi vitamin B15 dalam metabolisme tubuh juga belum jelas benar, dan kebutuhannya juga belum diketahui. Sampai sekarang belum juga dilaporkan adanya kasus dan gejala-gejala tegas karena defisiensi vitamin ini.
b.            Amygdaline, vitamin B17
Terutama vitamin B17 tidak memenuhi definisi vitamin secara keseluruhan. Fungsinya di dalam tubuh belum diketahui dengan jelas dan baru diajukan perkiraan fungsinya dalam daya tahan tubuh terhadap jenis kanker tertentu. Teori yang telah diajukan masih memerlukan pembuktian yang lebih memperkuat dan meyakinkan teori tersebut.
Amygdaline tidak dapat diberikan secara oral, karena akan dicerna dan menghasilkan komponen HCN, suatu zat yang sangat beracun. Pada pemberian parenteral, penguraian menjadi HCN berlangsung perlahan-lahan dan tubuh mempunyai mekanisma untuk mendetoksifikasikan HCN (Asam biru) ini.
Amigdalin terdapat dalam buah pala dan beberapa biji buah-buahan lain. Vitamin ini terdiri atas beberapa komponen, ialah benzaldehyda HCN dan suatu disakarida.
























BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Kesimpulan pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Golongan senyawa organic sebagai pelengkap makanan yang sangat diperlukan oleh tubuh dalam jumlah-jumlah kecil, dan harus datang dari luar tubuh, karena tidak dapat disintesa di dalam tubuh sendiri.
2.      Fungsi vitamin yaitu penting untuk pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan, dan fungsi-fungsi tubuh lainnya agar metabolisme berjalan normal.
3.      Berdasarkan kelarutannya, vitamin dibagi menjadi dua golongan utama, yaitu: Vitamin yang larut dalam air, meliputi Tiaminin (B1), Reboflovin (B2), Nikotinamida , Asam fantolenat , Peridoksen (B6) , Biotin , Asam falat , Vitamin B12, asam lipoat, dan vitamin C. Vitamin yang larut dalam lemak, meliputi vitamin A, D, E, dan K. selain itu terdapat pula, vitamin-vitamin B-kompoleks lain yaitu choline, inositol, dan para amino benzoic acid (PABA) dan vitamin-vitamin yang masih kontroversial yaitu asam pangamat (vitamin B15) dan amigdaline (vitamin B17).

B.  Implikasi
Implikasi penulis pada penulis pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Sebaiknya pembaca memenuhi makanan seimbangnya.
2.    Hendaknya pembaca tidak menyepelekan vitamin. Walaupun vitamin dikatakan mikro nutrient, tetapi itu akan berdampak pada unsur makro nutrien.



DAFTAR PUSTAKA
Sediaoetama, Achmad Djaeni. 2010. Ilmu Gizi. Jakarta: PT Dian Rakyat.
Sirajuddin, Saifuddin. 2011. Penuntun Praktikum Biokimia. Makassar:
UNHAS Press.






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar